Harga minyak menguat, catat kenaikan mingguan terbesar sejak Agustus

New York (ANTARA) – Harga minyak menguat pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), mencatat kenaikan mingguan terbesar mereka dalam lebih dari tiga bulan, dengan sentimen pasar didukung oleh berkurangnya kekhawatiran atas dampak varian virus corona Omicron terhadap pertumbuhan ekonomi global dan permintaan bahan bakar.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Februari naik 73 sen atau 1,0 persen, menjadi menetap di 75,15 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Januari naik 73 sen atau 1,0 persen, menjadi ditutup di 71,67 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Untuk minggu ini, harga acuan minyak mentah AS melonjak 8,2 persen, sementara Brent melonjak 7,5 persen, berdasarkan kontrak bulan depan.​​​​​​​ Ini merupakan kenaikan mingguan pertama mereka dalam tujuh pekan terakhir, bahkan setelah aksi ambil untung singkat.

“Pedagang minyak keluar dari keterkejutan mereka dan merasa lebih bullish karena mereka mengkalibrasi ulang ekspektasi permintaan mereka setelah varian virus corona Omicron ,” kata Phil Flynn, analis senior kelompok harga berjangka di Chicago.

Harga konsumen AS naik lebih lanjut pada November, menghasilkan kenaikan tahun ke tahun terbesar sejak 1982, data pemerintah menunjukkan, menambah sentimen bullish pada permintaan minyak.

Awal pekan ini pasar minyak telah memulihkan sekitar setengah dari kerugian yang diderita sejak wabah Omicron pada 25 November, dengan harga terangkat oleh studi awal yang menunjukkan bahwa tiga dosis vaksin COVID-19 Pfizer menawarkan perlindungan terhadap varian Omicron.

“Pasar minyak dengan demikian telah memperkirakan harga ‘skenario terburuk’ lagi, tetapi akan disarankan untuk meninggalkan risiko residual tertentu pada permintaan minyak,” kata analis Commerzbank, Carsten Fritsch.

👉 TRENDING  IHSG Jumat dibuka menguat 52,91 poin

Menjaga harga tetap goyah lalu lintas udara domestik di China, karena pembatasan perjalanan yang lebih ketat, dan kepercayaan konsumen yang lebih lemah setelah wabah kecil yang berulang.

Sementara itu, lembaga pemeringkat Fitch menurunkan peringkat pengembang properti China Evergrande Group dan Kaisa Group, dengan mengatakan mereka telah gagal membayar obligasi luar negeri. Ini memperkuat kekhawatiran potensi perlambatan di sektor properti China, serta ekonomi yang lebih luas dari importir minyak terbesar dunia.

Meskipun minyak mencatat kenaikan mingguan yang kuat, analis memperingatkan potensi hambatan di depan.

“Risiko seputar Omicron tidak boleh diabaikan sepenuhnya,” karena “meningkatnya jumlah infeksi dan penularan yang lebih tinggi dari varian virus baru mendorong semakin banyak negara untuk memberlakukan pembatasan baru yang tidak mungkin membuat permintaan minyak sepenuhnya tidak terpengaruh,” Carsten Fritsch, analis energi di Commerzbank Research, mengatakan dalam sebuah catatan.

“Terlebih lagi, kuartal pertama 2022 tampaknya akan melihat kelebihan pasokan yang cukup besar bahkan tanpa dampak Omicron, karena permintaan akan menurun oleh alasan musiman. Sementara pada saat yang sama pasokan akan meningkat secara nyata karena produksi minyak diperluas oleh OPEC+ dan cadangan minyak strategis dilepaskan di AS dan negara konsumen terkemuka lainnya,” tambahnya.

Baca juga: Harga minyak mentah Indonesia turun 1,67 dolar AS pada November

Baca juga: Minyak menetap lebih rendah tertekan kekhawatiran prospek permintaan

Baca juga: Minyak naik, ketakutan dampak Omicron berkurang, persediaan AS turun

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto

Sumber artikel www.antaranews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *